Kamis, 04 September 2008

Dinasti Penguasa Khwarizmia

Dinasti Penguasa Khwarizmia

Di era kejayaannya, wilayah Khwarizmia sempat dikuasai sebuah kerajaan bernama Dinasti Khwarizmi. Tak jelas betul, kerajaan itu berdiri. Yang jelas, dinasti itu didirikan oleh Anush Tigin Gharcai - seorang bekas budak Sultan Seljuk yang ditunjuk sebagai Gubernur Khwarizmia. Kerajaan Khwarizmi hanya mampu bertahan hingga tahun 1220 M, setelah dihancurkan pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan.

Sejak tahun 992 M hingga 1041 M, wilayah itu dikuasai Kerajaan Ghaznavid. Namun, pada tahun 1077 M, Khwarizmia berhasil ditaklukkan Dinasti Seljuk. Sejak saat itu, sultan Seljuk menugaskan Anush Tigin Gharcai sebagai gubernur di provinsi Khwarizmia. Pada tahun 1141 M, Sultan Seljuk, Ahmed Sanjar dikalahkan Kara Khitay. Cucu Anush Tigin, Ala Ad-Din Aziz terpaksa bergabung ke Kara Khitay.

Sultan Ahmed Sanjar pada tahun 1156 M terbunuh, ketika negara Seljuk mengalami chaos. Momen itu dimanfaatkan para penguasa Khwarizmi untuk mengembangkan wilayah kekuasaannya ke selatan. Pada tahun 1194 M, sultan terakhir Kerajaan Seljuk, Togrull III dikalahkan penguasa Khwarizmia, Ala ad-Din Tekish. Selain menyudahi kekuasaan Seljuk, dia juga membebaskan diri dari pengaruh Kara Khitay.

Memasuki abad ke-12 M, Tekish meninggal dunia dan digantikan puteranya Ala ad-Din Muhammad. Di era kekuasaan Ala Ad-Din Muhammad itulah seluruh kekuasaan Seljuk Raya berhasil ditaklukkan. Dia kemudian mendaulat dirinya sebagai Shah - gelar raja Persia. Ala Ad-Din Muhammad pun sangat dikenal sebagai Shah Khwarizmi. Wilayah kekuasaan Kerajaan Khwarizmi semakin meluas, ketika pada tahun 1212 M, dia mengalahkan Gur-Khan Kutluk dan menguasai tanah Kara Khitay.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Khwarizmi pun membentang mulai dari Syr Darya hingga Baghdad dan dari Sungai Indus hingga ke Laut Kaspia. Sayangnya, kekuasaan Kerajaan Khwarizmi tak mampu bertahan lama. Pada tahun 1218 M, Jengis Khan mengirimkan duta perdagangannya ke negara yang tengah maju dan berkembang pesat itu. Namun, pemerintahan Khwarizmi menolak tawaran dagang dari penguasa Dinasti Mongol itu.

Jengis Khan yang dikenal sosok brutal dan sadis pun menuntut pertanggungjawaban Shah Khwarizmi. Invasi pun dilakukan. Tak kurang dari 200 ribu pasukan Mongol menyerbu wilayah kekuasaan Kerajaan Khwarizmi. Dalam waktu dua tahun, kawasan Asia Tengah dikuasai dan ditaklukkan tentara Mongol. Wilayah-wilayah penting dalam peradaban Islam seperti, Bukhara, Samarkand, dan ibu kota Khwarizmia, Urgench dihancurkan. Sultan Ala Ad-Din Muhammad mencoba menyelamatkan diri dari serangan ganas pasukan Jengis Khan itu dan beberapa pekan kemudian wafat di sebuah pulau di Laut Kaspia. Putera Sultan Ala Ad-Din Muhammad, Jalal Ad-Din Manguberdi pun menggantikan posisi ayahnya sebagai sultan baru. Namun, dia menolak menggunakan gelar shah.

Sultan Jalal Ad-Din pun mencoba untuk menyelamatkan diri dari kepungan tentara Mongol dengan melarikan diri ke India. Upaya untuk lolos dari kejaran tentara Mongol tak berlangsung mulus. Dalam Pertempuran Indus, sang sultan kalah. Namun, Jala Ad-Din berhasil meloloskan diri ke Kesultanan Delhi.

Ketika Khwarizmia dihancurkan Mongol, penduduk di wilayah itu memilih menjadi tentara bayaran di Irak utara. Para tentara bayaran asal Khwarizmia itu sempat disewa Salih Ayyub, Sultan Dinasti Ayyubiah yang berpusat di Mesir untuk melawan Salih Ismail. Tentara bayaran dari Khwarizmia itu terlibat dalam Perang Salib. Berkat kekuatan tentara Khwarizmia, umat Islam mampu menguasai Yerusalem hingga tahun 1917 M - ketika Inggris mengambilalihnya dari Kerajaan Usmani Turki. hri/yto
Foto: twccenter.net

Rabu, 03 September 2008

Kepastian Kembalinya Khilafah

Edisi 416]. Tepat 28 Rajab 1429 H ini, kita telah memperingati 86 tahun momentum yang paling menyakitkan bagi umat Islam di seluruh dunia, yaitu runtuhnya Khilafah. Tanggal 28 Rajab 1342 H, bertepatan dengan 3 Maret 1924, Kemal Attaturk (seorang agen Inggris), secara resmi membubarkan Kekhilafahan Turki Utsmani. Malam harinya, tengah malam, Khalifah Islam terakhir, Sultan Abdul Majid, diusir!

Empat bulan kemudian, 24 Juli 1924, Perjanjian Laussane ditandatangani. Di antara isinya, Inggris mengakui kemerdekaan Turki sekaligus menarik pasukannya dari Turki. Merespon sikap Inggris ini, seorang perwira Inggris saat itu memprotes Menteri Luar Negeri Inggris, Curzon. Dengan enteng Curzon menjawab, “Yang penting, Turki telah kita hancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan spiritualnya, yaitu Khilafah dan Islam!” (Zallum, 2001: 184).

Curzon benar. Setelah sekitar 84 tahun menjadi republik, menerapkan hukum-hukum Barat sekular, dan membuang hukum-hukum Islam, Turki memang tidak pernah bangkit; kemakmuran tidak pernah terwujud; dan cita-cita untuk menjadi negara modern seperti Eropa tidak pernah terbukti. Turki bahkan nyaris bangkrut. Pada tahun 1994, 1 US$ dihargai 10.000 Turkish Lira (uang Turki). Pada tahun 2004, 1 US$ setara 1.500.000 Turkish Lira. Turki telah lama mengalami mega inflasi (di atas 100% pertahun). Di Turki ongkos naik bis kota pernah mencapai sejuta! (Fahmi Amhar, 2004).

Bandingkan kondisi Turki saat masih dalam wadah Khilafah dan menerapkan syariah. Tentang Kekhilafahan Turki Utsmani, Paul Kennedy, seorang pemikir Barat, menulis, “Imperium Utsmani lebih dari sekadar mesin militer; ia telah menjadi penakluk elit yang telah mampu membentuk satu kesatuan iman, budaya dan bahasa pada sebuah area yang lebih luas dibandingkan dengan yang pernah dimiliki oleh Imperium Romawi…” (Paul Kennedy-The Rise and Fall of The Great Powers: Economic Change an Military Conflict from 1500 to 2000).

Kehebatan dan keagungan Khilafah Islam bukan hanya pada masa Turki Utsmani, tetapi juga pada masa-masa Kekhilafahan sebelumnya, baik Abbasiyah, Umayah dan tentu saja masa Khulafaur Rasyidin. Tentang ini, Paul Kennedy, kembali menulis, ”Dalam beberapa abad sebelum tahun 1500, Dunia Islam telah jauh melampaui Eropa dalam bidang budaya dan teknologi. Kota-kotanya demikian luas, rakyatnya terpelajar, perairannya sangat bagus. Beberapa kota di antaranya memiliki universitas-universitas dan perpustakaan yang lengkap dan memiliki masjid-masjid yang indah. Dalam bidang matematika, kastografi, pengobatan dan aspek-aspek lain dari sains dan industri, kaum Muslim selalu berada di depan.” (Paul Kennedy-The Rise and Fall of The Great Powers: Economic Change an Military Conflict from 1500 to 2000),

Kepastian Kembalinya Khilafah

Meski sedemikian fakta sejarah membuktikan, dan pengakuan pun datang bukan hanya dari pakar Islam, tetapi juga pakar non-Muslim, tetap saja ada pihak yang meragukan kembalinya Khilafah. Bahkan ada yang menganggap kembalinya Khilafah itu mustahil, dan orang yang hendak menegakkannya kembali itu bagaikan tengah berfantasi.

Berkaitan dengan soal di atas, perlu kami tegaskan di sini, bahwa orang yang mengatakan bahwa Khilafah tidak akan bisa tegak itulah yang justru tengah berfantasi. Dengan izin Allah, Khilafah akan tegak kembali. Keyakinan ini ditopang oleh empat perkara:

Pertama, jaminan dari Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih untuk memberikan kekuasaan di muka bumi, sebagaimana yang pernah diberikan kepada para pendahulu mereka.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS an-Nur [24]: 55).

Kedua, kabar gembira dari Rasulullah saw. berupa akan kembalinya Khilafah Rasyidah ala Minhaji Nubuwwah (berdasarkan metode kenabian), setelah fase penguasa diktator pada zaman kita ini., Nabi saw. Bersabda, sebagaimana dituturkan Hudzaifah al-Yaman:

« تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ ».

“Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase penguasa yang zalim, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Setelah itu, akan datang kembali Khilafah ala Minhajin Nubuwah (berdasarkan metode kenabian).” Kemudian Baginda saw. diam. (HR Ahmad).

Ketiga, umat Islam yang hidup dan dinamis tentu akan menyambut perjuangan bagi tegaknya Khilafah dan siap mendukung perjuangan ini hingga Allah mewujudkan janji-Nya. Setelah itu, mereka akan bahu-membahu merapatkan barisan untuk menjaga Khilafah. Sesungguhnya umat ini diturunkan sebagai umat terbaik (khayra ummah), yang akan selalu bergerak untuk mewudukan predikat itu. Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

Kalian adalah umat terbaik, yang dihadirkan untuk seluruh umat manusia. Kalian harus menyerukan kemakrufan dan mencegah kemungkaran serta tetap mengimani Allah. (QS Ali ‘Imran [3]: 110).

Keempat, adanya partai (hizb) yang ikhlas, yang terus bekerja dengan sungguh-sungguh siang dan malam bagi tegaknya Khilafah semata karena hingga janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah saw. itu benar-benar terwujud. Partai itu, sikapnya lurus, tidak pernah takut terhadap cacian orang yang mencaci, tuntutannya tidak pernah melunak serta tekadnya tidak pernah melemah sampai cita-citanya tercapai. Seolah-olah ini membenarkan sabda Nabi saw., sebagaimana dikeluarkan Muslim dan Tsauban:

« لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظاَهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ…»

Akan selalu ada satu kelompok dari umatku, yang selalu memperjuangkan kebenaran. Mereka tidak akan bisa dinistakan oleh siapa pun yang menistakan mereka, hingga urusan Allah ini menang, dan mereka pun tetap seperti itu.

Sesungguhnya berdasarkan satu faktor di atas saja cukup untuk menyatakan bahwa perjuangan demi tegaknya Khilafah bukanlah fantasi. Lalu bagaimana jika keempat fakta tersebut menyatu?

Tegaknya Khilafah adalah Cita-cita dan Perjuangan Umat Islam

Dalil-dalil yang membuktikan kewajiban untuk menegakkan kembali Khilafah sangat banyak, baik al-Quran, as-Sunnah maupun Ijmak Sahabat. Itu sudah sering dan berulang kami kemukakan dalam berbagai kesempatan. Karena itu, kami tidak perlu mengemukakannya kembali. Apalagi masalah ini merupakan perkara ma’lûm min ad-dîn bi ad-dharûrah (urusan agama yang sudah diyakini urgensitasnya).

Karena itulah, lihatlah sejarah dengan jujur, sejak Baginda Rasulullah saw. wafat, umat Islam berturut-turut mengangkat para khalifah; mulai dari Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib); Khilafah Umayah, Khilafah Abbasiyah hingga Khilafah Utsmaniyah. Selama berabad-abad umat Islam tidak pernah putus di tengah jalan untuk terus mempertahankan Khilafah. Mereka tidak pernah menunda pengangkatan khalifah baru jika khalifah sebelumnya wafat. Konsistensi sikap umat Islam ini tidak lepas dari kesadaran mereka akan wajib dan urgennya Khilafah bagi umat Islam. Ini sekaligus membuktikan kebenaran sabda Rasulullah saw.:

«وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ »

Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku; yang akan ada adalah para khalifah dan mereka berjumlah banyak. (HR al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah dan Ahmad).

Alhamdulillah, kini umat Islam pun paham, bahwa Khilafah telah menjadi satu-satunya tuntutan mereka. Umat pun telah merindukannya. Ditambah lagi dengan fakta dan peristiwa yang terjadi akibat ulah negara-negara kafir penjajah—baik di Irak, Afganistan maupun Palestina—seperti kezaliman, pembunuhan, perampokan kekayaan alam dan upaya memperbudak rakyatnya untuk memuaskan nafsu penjajahan mereka. Semuanya itu terekam dengan baik dalam benak umat, dan mereka sadar, bahwa umat ini membutuhkan kekuatan. Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan Khilafah. Dengannya umat Islam di seluruh dunia ini akan bersatu padu sebagai satu umat.

Mereka juga sadar, bahwa umat Islam ini adalah satu; akidah mereka satu; agama mereka satu; al-Quran mereka satu; kiblat mereka satu; syariah mereka satu; dan kepemimpinan mereka pun—sebagaimana yang dituntut Allah dan Rasul-Nya—harusnya satu. Itulah Khilafah Islam. Kesadaran itu kini bagaikan bola salju yang terus menggelinding. Karena itu, kembalinya Khilafah tinggal soal waktu. Semuanya ada di tangan Allah. Karena itu, hanya dengan izin dan pertolongan Allah, Khilafah pasti akan tegak kembali! Wallahu a’lam. []

Salaf

Bagimana kedudukan manhaj salafus shalih? Apakah bagi muslimin bebas dalam menafsirkan Al-Quran dan As-Sunnah? Berikut ulasan tentang kewajiban mengikuti manhaj salaf


Manhaj secara bahasa artinya jalan yang jelas (Qamus Al-Muhith). Istilah yang populer di kalangan ahlul ilmi ialah jalan yang akan mengantarkan kepada pengenalan hakekat ilmu melalui kaidah-kaidah umum yang dapat menjaga jalannya akal dan memberi batasan-batasan yang praktis, sehingga dengan itu akan sampai kepada hasil yang dapat diketahui dengan jelas (lihat Manhajul Istidlal, jilid I, halaman 20, oleh Utsman bin Ali Hasan). Dengan kata lain Manhaj adalah sistem pemahaman dan pengenalan ilmu. Yang dimaksud dengan Manhaj di sini ialah Manhaj sebagai Salafiyyin dalam memahami dan mengamalkan agama ini. Manhaj ini diambil dari para imam ahlul hadits dari kalangan Salafus Shalih dan orang-orang yang mengikuti mereka. Hal ini perlu ditegaskan karena mengingat semakin gencarnya kelompok-kelompok/firqah-firqah sesat menggoncang umat sehingga banyak kalangan manusia tertipu bahkan karena tebalnya asap penyimpangan meliputi dirinya sehingga kebenaran dari Ulama/Imam Ahlul Haditspun tidak dipedulikannya dan menampakkan secara terang-terangan kesalahannya. Naudzubillah. Hanya kepada Allahlah kita mohon perlindungan. Dalam menelaah Manhaj ini ada beberapa poin yang harus dipahami dan direnungkan bagi para insan yang menginginkan Al Haq, yaitu sebagai berikut :

1. Jalan Kebenaran itu hanya ada satu.

Barangsiapa yang menyimpang dari jalan ini, berarti dia berada di atas kebatilan dan berjalan di atas kesesatan. Jalan tersebut adalah Al quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih. ibnu masud radhiallahu anhu meriwayatkan :Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. membuat satu garis kemudian beliau bersabda : Ini adalah Jalan Allah. . Kemudian beliau menggaris beberapa garis ke kanan dan ke kiri kemudia bersabda Ini adalah Subul (jalan-jalan) dan di atas setiap jalan-jalan itu ada setan yang menyeru kepadanya.Kemudian beliau membaca ayat (yang artinya) : Dan sesungguhnya ini adalah Jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan jangan kalian ikuti jalan-jalan lain, niscaya ia akan memisahkan kalian dari jalan Allah. (HR. Ahmad, An-Nasai, Ad-Darimi Al-Hakim dihasankan oleh Al-Arnauth di dalam Syarhus Sunnah Al-Baghawi 1/197).

Imam Al-Lalikai meriwayatkan dalam kitabnya Syarh Ushul Itiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah, jilid 1 halaman 87 riwayat ke 108, pernyataanIbnu masud : Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu (ilmu Syariah) sebelum ilmu tersebut dicabut Dan ilmu itu dicabut dengan meninggalnya ahli ilmu (para ulama) atau beliau menyatakan : Orang yang mempunyai ilmu. beliau berkata pula : Wajib atas kalian untuk berilmu, karena setiap kalian tidak mengetahui kapan dia membutuhkan ilmu tersebut atau butuh kepada apa yang dikandung olehnya. sesungguhnya kalian akan menjumpai beberapa kaum yang mengaku mengajak kalian kepada kitab Allah padahal mereka betul-betul telah melemparkan kitab itu ke belakang punggung mereka. Maka wajib atas kalian untuk berilmu dan jauhilah oleh kalian perbuatan bidah, memberat-beratkan diri (dalam beragama ini, pent) dan jauhilah oleh kalian berdalam-dalam di dalam urusan agama serta wajib atas kalian berpegang dengan yang terdahulu (yaitu salafus shalih). Penyimpangan dari pemahaman sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. terhadap Al Quran dan As-Sunnah berarti penyimpangan dari ash-shirath al-mustaqim.Semakin jauh penyimpangan itu semakin jauh pula pelakunya darinya. Orang yang menyimpang ini dinamakan Ahlul Ahwa (pengekor Hawa Nafsu) atau dengan istilah lain Ahlul Bidah.

2. Ilmu yang paling penting ialah ilmu-ilmu Al Quran dan Al Hadits dengan penafsiran para sahabat dan tabiin. Selain ilmu di atas hanyalah semata-mata pelengkap bagi keduanya dan sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia bagi kemaslahatan kaum muslimin. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, Allah akan menjadikan dia paham tantang ilmu Agama. Sesungguhnya aku hanyalah pembagi (zakat) sedangkan Allahlah yang memberinya (yakni pemberi rezeki). Senantiasa akan ada dari umat ini orang yang menunaikan perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah. (HR. Bukhari dalam Fathul bary, no.71 dari muawiyah bin Abi Sufyan).

Ibnu Hajar Al-Asqalani menyatakan : Di dalam hadits ini ada keterangan yang tegas tentang keutamaan ulama di atas segenap manusia dan keutamaan belajar agama ini atas ilmu lain. (lihat fathul bari oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani, jilid 1, halaman 165). Memahami Agama pengertiannya tidak lain adalah memahami Al quran dan Al hadits, karena agama seluruhnya hanya diambil dari keduanya. Imam Syafii tnÛ¯ tpºÀ menerangkan : Semua ilmu selain Al Quran adalah melalaikan (menyibukkan) kecuali ilmu hadits dan ilmu fiqih dalam agama ini Yang dinamakan ilmu adalah apa-apa yang ada padanya pernyataan : Telah menceritakan kepada kami (yaitu dengan sanad). Sedangkan selain itu hanyalah semata-mata bisikan syaitan. (lihat Syarh Aqidah Thahawiyah oleh Ibnu Abil Izzi, halaman 75).

3. Berpegang dengan As Sunnah An Nabawiyah dan mencintai serta mengamalkannya dalam segala segi kehidupan adalah jaminan keselamatan dunia dan akhirat. Orang yang demikian dinamakan Ahlus Sunnah. Mencintai As- Sunnah berarti harus pula mencintai Ahlus Sunnah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : Barangsiapa diantara kalian menginginkan bagian tengah surga, maka hendaklah ia tetap berpegang dengan Al-Jamaah, karena syaitan itu bersama orang yang bersendiri dan dia (setan) lebih jauh dari orang yang berdua. (Berkata Syaikh Ali hasan Abdul Hamid : Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad I/26; Sanadnya Shahih, lihat Al-Muntaqa An-Nafis Min Talbisil Iblis hal. 31).

Ubay bin Kaab menyatakan : Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan jalan dan Sunnah ini, karena orang yang berada di jalan dan Sunnah ini, yang mengingat Ar Rahman (Allah) lalu berlinang air matanya karena takut kepada Allah, tidak akan di sentuh api neraka. Sesungguhnya bersederhana dalam menempuh jalan dan sunnah ini lebih baik dari pada bersemangat dalam penyimpangan dari Sunnah. (Berkata Syaikh Ali Hasan Abdul hamid (Muridnya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani) Atsar ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az-Zuhd, hal. 196, secara panjang lebar dengan sanad hasan).

Imam Al-Lalikai meriwayatkan perkataan Sufyan Atsauri : Apabila sampai berita kepadamu tentang seorang Ahlus Sunnah di Timur dan lainnya di barat, maka kirimkanlah salam kepada keduanya dan doakanlah kebaikan bagi mereka. Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah Wal jamaah. (Lihat Syarh Ushul Itiqad Ahlis Sunnah wal Jamaah oleh Al Lalikai, jilid I halaman 64, riwayat ke 50). Al Jamaah yang dimaksud da dalam hadits di atas adalah para Khulafaur Rasyidin yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Radhiallahu anhum. Berpegang dengan pemahaman sahabat yang dipimpin oleh beliau berempat ini berarti berpegang dengan Al Jamaah.

4. Menjauhkan diri dari bidah, membencinya, dan membersihkan ilmu dan amal dari kotoran bidah serta juga membenci ahlul bidah adalah pagar yang akan melindungi sunnah dan pengamalannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya : Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnhku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bidah dan semua bidah adalah sesat. (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Dzahabi dan Hakim, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al jami no. 2549).

Sufyan Ats-Tsauri menyatakan : Bidah itu lebih disukai oleh ilblis daripada maksiat, karena maksiat itu adalah perkara yang pelakunya masih dapat diharapkan bertaubat darinya, sedangkan bidah tidak dapat diharapkan pelakunya bertaubat darinya. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid dalam Al-Muntaqa An-Nafis, halaman 36 : atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jad dalam musnadnya riwayat 1885. Al- Fudlail bin Iyadl menyatakan : Apabila engkau melihat seorang ahlul bidah berjalan di suatu jalan , maka ambilah jalan lain. Dan tidak akan diangkat amalan ahlul bidah ke hadapan Allah Yang Maha Mulia. Barangsiapa membantu ahlul bidah (pada amalan bidah, pent.), maka sungguh dia telah membantu kehancuran Islam. Diriwayatkan oleh Abu Nuaim 8/102-104 dari Al-Muntaqa An-Nafis hal 26-27.

Selanjutnya beliau mengatakan pula : Barangsiapa menikahkan saudara perempuannya dengan ahlul bidah, maka berarti dia telah memutuskan silaturahim dengannya dan barangsiapa duduk bersama ahlul bidah, maka ia tidak diberi hikmah. Dan apabila Allah Yang Maha Mulia mengetahui dari seorang lelaki bahwa dia membenci ahlul bidah maka aku berharap Allah akan mengampuni dosanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya : Seseorang itu di atas agama orang yang dicintainya, maka hendaklah setiap orang dari kalian melihat siapa yang menjadi kekasihnya. 5. Pengertian tentang siapa Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan siapa pula Ahlul Bidah wal Firqah sebagaimana diterangkan oleh para ulama adalah sebagai berikut: Berkata Abul Faraj Ibnu Jauzi Al Baghdadi dalam Talbis Iblis, halaman 17-18 (cet. th. 1928) : Maka sungguh telah jelas keterangan kami di atas bahwa Ahlus Sunnah itu adalah orang yang mengikuti sunnah (sunnah Nabi-Nya, pent.), sedangkan Ahlul Bidah adalah orang-orang yang menampakkan sesuatu dalam agama yang tidak ada contoh dari orang sebelumnya melakukan hal itu dan tidak ada sandaran (dalil)nya, oleh karena itu mereka menyembunyikan bidah mereka (tidak menampakkannya kepada sembarang orang, pent.), sedangkan Ahlul Sunnah tidak menutup-nutupi madzhab mereka, sehingga pendapat mereka jelas dan madzhab mereka dikenal dan kemenangan itu bagi mereka.

6. Mengkritik, menyalahkan dan membicarakan penyimpangan ulama ahlus sunnah harus dengan bimbingan ulama pula. Bila ada ulama yang memuji ulama yang mempunyai penyimpangan tersebut, tidak berarti ulama yang memuji itu menyetujui penyimpangan tersebut. Karena itu kritikan ulama terhadap alim (ulama) dengan rinci, lengkap dengan bukti dan hujah-hujahnya, lebih diperhatikan daripada yang memujinya. Sebab yang memujinya mungkin belum mengetahui penyimpangan orang yang dipujinya sedangkan pihak pengkritik lebih mengetahui hal penyimpangan tersebut. Hsl ini merupakan kaedah ilmu hadits yang juga diterapkan dalam penilaian terhadap ulama.

Imam al Hafidh Khatib al Baghdadi dalam kitab beliau berjudul al-Kifayah Ilmi Ar Riwayah, hal.105, bab Al-Qaul Fil Jarh Wat Tadil Idzajtamaa Ayyuhuma Aula menjelaskan: Telah sepakat ahlul ilmi (yani ulama) bahwa siapa saja yang dicela oleh seorang atau dua orang dan dipuji oleh orang sebanyak itu, maka celaan itu leih utama (untuk diperhatikan). Sebabnya ialah bahwa pencela itu memberikan perkara yang tersembunyi yang diketahuinya dan pada saat yang bersamaan benar pula ucapan pihak yang memujinya, dan pencela menyatakan kepada yang memujinya: Sungguh engkau (pemujinya) telah mengetahui keadaan pihak yang engkau puji itu secara dhahir-nya, dan engkau kosong dari pengetahuan yang tidak engkau ketahui tentang pengujian semestinya terhadap agamanya. Pemberitahuan orang yang memujinya tentang terpujinya orang tersebut tidak pula me-nafi-kan kejujuran pihak pencela dalam apa yang ia beritakan. Oleh karena itu celaan terhadap seseorang itu lebih diutamakam dari pujian terhadapnya.

7. Mengambil ilmu dan riwayat dari ahlul bidah adalah tugas para ulama dan bukan tugas orang awam atau orang yang baru belajar agama. Imam Al-khatib al-Baghdadi meriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas trÌ tnÛ¯æÈÀ menyatakan: Sesungguhnya ilmi ini (As-Sunnah) adalah agama, maka telitilah dari siapa kamu mengambil agamamu. Imam al-Barbahari meriwayatkan ucapan Sufyan Ats-Tsauri : Barang siapa yang cenderung mendengar dengan telinganya kepada ahli bidah, berarti dia keluar dari jaminan perlindungan Allah. Dan Allah serahkan dia kepadanya (bidah).(Syarh Sunnah Al-Barbahari, hal. 137 dengan tahqiq Abu Yasir Khalid bin qosim Ar Radadi). Imam Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah, jilid I, halaman 205-206, riwayat ke 44 membawakan perkataan Amr bin Qois Al-Malai: Apabila engkau melihat seorang anak muda di awal pertumbuhannya bersama Ahlus Sunnah maka kuatkanlah bagi masa depannya yang baik dan apabila engkau melhat ia bersama ahli bidah, maka putus asalah darinya (putus asa mengharapkan kebaikannya), karena anak muda itu keadaannya berdasarkan awal pertumbuhannya.

8. Mencintai atau membela dan memuliakan ahlul bidah adalah suatu penyimpangan manhaj yang sangat berbahaya dan merupakan dosa yang besar dan keji. Imam Ibnul Jauzi Abul Faraj Al-Baghdadi meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dari Aisyah Radhiallahu Anha, yang artinya : Barangsiapa menghormati ahlul bidah maka sungguh ia telah membantu untuk meruntuhkan Islam.(Talbis Iblis, hal. 14). Berkata Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid dalam Al-Muntaqa An-Nafis, hal. 37 Hadits ini hasan In sya Allah. Berkata Syaikhul Islam ketika membantah Al-Ittihadiyah (wihdatul wujud): Wajib menghukum setiap orang yang menisbahkan diri kepada mereka, membela serta memuji mereka, mengagungkan buku-buku mereka atau diketahui membantu dan menolong mereka, tidak suka berbicara tentang (kejelekan) mereka atau mencari alasan bagi keringanan perbuatan mereka dengan dalih bahwa ucapan mereka tidak dapat dipahami atau berkata dengan meragukan pengarang yang namanya tercantum dalam kitab mereka yang sesat itu. Alasan-alasan seperti ini tidak akan diucapkan, kecuali oleh orang yamg bodoh atau munafik. Bahkan wajib menghukum setiap orang yang mengetahui keadaan mereka tetapi tidak membantu menegakkan hujah untuk membantah mereka karena membantah mereka adalah kewajiban terbesar disebabkan mereka telah merusak akal dan agama orang banyak, para Syaikh dan ulama serta para raja dan penguasa. Mereka telah membuat kerusakkan di muka bumi dan menghalangi orang dari jalan Allah.(Fatawa, juz II/132). Penutup Demikianlah manhaj salaf yang kami saripatikan dari keterangan para ulama salafus shalih. Dengan dasar manhaj ini kami berupaya menggalang persatuan dan menegakkan al-wala wal bara. Adapun dengan manhaj ini kami dianggap bodoh, suka mencap orang dengan tuduhan bidah dan sesat, suka membuat perpecahan, anti persatuan dan ukhuwah Islamiyah, kami serahkan semua tuduhan itu kepada Allah Subhanahu Wa Taala.

Kami tetap berdoa kepada Allah, semoga kami mendapat petunjuk dari Allah dan istiqomah di atas jalan-Nya dengan menggali ilmu salafus shalih, mengamalkan dan mengajarkannya kepada segenap kaum muslimin dan bahkan segenap umat manusia. Kami juga memohon kepada Allah Subhanahu Wa Taala. agar orang-orang yang berada dalam penyimpangan mendapat petunjuk dan ampunan Allah, sehingga kita semua dipersatukan oleh Allah Subhanahu Wa Taala. di jalan-Nya dan kemudian dibangkitkan di hari kiamat bersama para shahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tabiin dan tabiut tabiin

Amin.

{Kontributor : Rony Setyo Hariyono}

Selasa, 02 September 2008

SYEIKH TAQIYUDDIN AN-NABHANI (1909-1977)

Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani

Pendiri dan Amir Pertama Hizbut Tahrir


Sebelum membicarakan tentang sejarah hidup beliau, perlu difahami bahawa tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengagungkan atau mensucikan beliau, kerana tidak ada seorang pun yang boleh diagungkan dan disucikan melainkan Allah SWT. Ia juga tidak didasari oleh sikap fanatisme kelompok, kerana fanatisme kelompok jelas telah diharamkan Allah SWT.

Tulisan mengenai biografi beliau ini juga bukan untuk menumbuhkan sikap bahawa semua yang berasal dari beliau adalah pasti benar, kerana beliau adalah manusia biasa, yang ada kemungkinan benar dan salah, kerana beliau bukan nabi/rasul yang ma’sum.


Namun demikian, bukanlah satu sikap yang bijaksana jika hanya kerana kebencian sesetengah pihak terhadap Hizbut Tahrir (HT) atau terhadap Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, hal ini justeru mendorong mereka untuk bersikap prejudis, bahkan memfitnah dan serta-merta menolak setiap pemikiran yang dibawa oleh beliau. Dalam hal ini, alangkah baiknya jika kita mengingati dan mengamalkan pesan Saidina Ali bin Abi Thalib yaitu:


[ لاَ تَعْرِفْ الْحَقَّ بِالرِّجَالِ، أَعْرِفْ الْحَقَّ تَعْرِفُ اَهْلَهُ ]

“Janganlah engkau menilai kebenaran itu dari orangnya, tetapi kenalilah kebenaran itu, maka engkau akan mengenal orang yang membawanya”.


Oleh kerana itu, semua pemikiran dan hukum yang digali oleh Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, sebagaimana yang digali oleh para ulama lainnya, harus tetap dipandang sebagai pemikiran dan hukum yang mesti kita kembalikan pada dalil-dalil syariat. Dalam kerangka berfikir seperti inilah, tulisan mengenai biografi singkat beliau dipaparkan berikut ini.


Meskipun Syeikh Taqiyuddin adalah orang yang menggagas kelahiran Hizbut Tahrir (HT) sebagai sebuah parti politik internasional yang sekarang ini telah wujud di berbagai belahan dunia, penulisan yang membincangkan tentang Syeikh Taqiyuddin –sebagai seorang ulama, qadhi, pemikir, dan politikus ulung— sangat sukar kita temui. Bukan hanya Syeikh an-Nabhani, bahkan penulisan mengenai tokoh-tokoh Hizbut Tahrir yang lain juga jarang diungkap. Mengapa? Hal ini tidak lain kerana para penguasa Arab dan penguasa negeri-negeri kaum Muslimin lainnya menganggap Hizbut Tahrir sebagai gerakan yang paling berbahaya bagi kelangsungan kekuasaan mereka.


Oleh kerana itu, dengan kekuasaan dan kekuatan yang mereka miliki, para penguasa ini berusaha “menyembunyikan” kisah, keilmuan dan ketokohan para ulama Hizbut Tahrir, baik secara langsung mahupun melalui ‘boikot’ media. Sudahnya, Syeikh Taqiyuddin dan ulama-ulama Hizbut Tahrir yang lain hampir-hampir tidak dikenali di mata masyarakat. Kini, populariti seseoranglah yang dijadikan ukuran, bukan lagi keilmuan, kecerdikan, dedikasi dan istiqamah dalam perjuangan. Padahal, populariti seseorang pada zaman kini selalu bergantung pada propaganda media dan kepentingan pihak-pihak yang “mempromosikannya”.


Para penguasa pengkhianat yang ada bukan sekadar memulaukan Hizbut Tahrir, malah mereka menangkap pengasas dan tokoh-tokoh Hizbut Tahrir agar Hizbut Tahrir menghentikan segala kegiatannya. Mereka juga menghalang aktiviti para syabab (aktivis)-nya agar sirna segala perjuangan yang dibawa oleh Hizbut Tahrir. Mereka menganggap perjuangan yang dibawa oleh Hizbut Tahrir jauh lebih berbahaya daripada Parti Komunis. Ungkapan Taufiq Abdul Hadi (bekas Ketua Kabinet Jordan pada tahun 1953-an) menggambarkan hal ini, di mana katanya,


“Sesungguhnya (bagi penguasa), Hizbut Tahrir jauh lebih berbahaya daripada Parti Komunis. Segenap kekuatan dikerahkan untuk menghalang aktiviti dan perkembangannya. Tatkala Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani meninggal pada tahun 1977, seluruh media di negeri Arab dan negeri Islam lainnya dilarang dari membuat segala liputan mahupun ucapan takziah.”


Demikianlah jahatnya penguasa-penguasa Muslim terhadap Hizbut Tahrir. Hanya kerana Hizbut Tahrir menyerukan untuk kembali kepada kehidupan Islam dan hanya kerana Hizbut Tahrir menyeruk kepada tegaknya semula Daulah Khilafah, Hizbut Tahrir telah dimusuhi dan diperangi habis-habisan oleh mereka. Bukan sekadar Hizbut Tahrir yang dibenci oleh penguasa-penguasa jahat ini, malah amir Hizbut Tahrir turut “dipulau” dan dihalang dari dikenali oleh umat Islam. Justeru, kami bentangkan di sini biografi singkat pendiri dan amir pertama Hizbut Tahrir agar kaum Muslimin mengenalinya dengan lebih dekat .


Biografi Singkat

Nasab

Beliau adalah Syeikh Muhammad Taqiyuddin bin Ibrahim bin Musthafa bin Ismail bin Yusuf An-Nabhani. Gelaran “an-nabhani” dinisbahkan kepada kabilah Bani Nabhan, yang termasuk orang Arab penghuni padang sahara di Palestin. Mereka bermukim di daerah Ijzim yang termasuk dalam wilayah Haifa di Palestin Utara.


Kelahiran dan Pembesaran

Syeikh An-Nabhani dilahirkan di daerah Ijzim pada tahun 1909. Beliau mendapat pendidikan awal dari ayahnya sendiri iaitu seorang alim yang faqih fid-din. Ayah beliau seorang pengajar ilmu-ilmu syariah di Kementerian Pendidikan Palestin. Ibunya pula menguasai beberapa cabang ilmu syariah, yang diperoleh dari datuknya, Syeikh Yusuf bin Ismail bin Yusuf an-Nabhani. Beliau adalah seorang qadhi (hakim), penyair, sasterawan, dan salah seorang ulama terkemuka dalam Daulah Utsmaniyah.


Syeikh Yusuf an-Nabhani adalah termasuk tokoh sejarah masa akhir Khilafah Utsmaniyah. Beliau berpendapat bahawa Khalifah Utsmaniyah merupakan penjaga agama dan akidah, simbol kesatuan kaum Muslimin, dan mempertahankan institusi umat. Syeikh Yusuf bertentangan dengan Muhammad Abduh dalam metode tafsir. Muhammad Abduh menyerukan perlunya penakwilan nas agar tafsir merujuk pada tuntutan keadaan dan waktu. Beliau juga bertentangan dengan Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan murid-muridnya yang sering menyerukan reformasi agama. Menurut beliau, tuntutan reformasi itu meniru Protestan. Dalam Islam tidak ada reformasi agama (seperti dalam pemahaman Protestan). Beliau juga menentang gerakan misionaris dan sekolah-sekolah misionaris yang mulai tersebar pada ketika itu.


Oleh kerana itu, di samping seorang ulama yang faqih, Syeikh Yusuf an-Nabhani juga terkenal sebagai seorang politikus yang selalu memperhatikan dan mengurus urusan umat. Berkenaan Syeikh Yusuf An-Nabhani, beberapa penulis biografi menyebutkan,


“(Dia adalah) Yusuf bin Ismail bin Yusuf bin Hasan bin Muhammad an-Nabhani asy Syafi’i. Julukan baginya ialah Abu al-Mahasin. Dia adalah seorang penyair, sufi, dan termasuk salah seorang qadhi yang terkemuka. Dia menangani peradilan (qadha’) di Qushbah Janin, yang termasuk wilayah Nablus. Kemudian beliau berpindah ke Constantinople (Istanbul) dan diangkat sebagai qadhi untuk menangani peradilan di Sinjiq yang termasuk wilayah Moshul. Beliau kemudian menjawat jawatan sebagai ketua Mahkamah Jaza’ di al-Ladziqiyah, sebelum berpindah ke al-Quds. Selanjutnya beliau menjabat sebagai ketua Mahkamah Huquq di Beirut. Beliau mengarang banyak kitab yang jumlahnya mencapai hingga 80 buah.”


Pembesaran Syeikh Taqiyuddin dalam suasana keagamaan seperti itu, ternyata mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan keperibadian dan pandangan hidupnya. Syeikh Taqiyuddin telah menghafal Al-Quran dalam usia yang amat muda, iaitu sebelum beliau mencapai umur 13 tahun. Beliau banyak mendapat pengaruh dari datuknya, Syeikh Yusuf an-Nabhani dalam banyak hal. Syeikh Taqiyuddin juga sudah mulai mengerti masalah-masalah politik yang penting, di mana datuk beliau menempuh atau pun mengalami peristiwa-peristiwa tersebut secara langsung kerana hubungannya yang rapat dengan para Khalifah Daulah Utsmaniyah saat itu. Beliau banyak menimba ilmu melalui majlis-majlis dan diskusi-diskusi fiqih yang diselenggarakan oleh datuknya.


Kecerdasan dan kecerdikan Syeikh Taqiyuddin yang menonjol tatkala mengikuti majlis-majlis ilmu tersebut telah menarik perhatian datuknya. Oleh sebab itu, datuk beliau begitu memerhatikan Syeikh Taqiyuddin dan berusaha meyakinkan ayah beliau –Syeikh Ibrahim bin Musthafa– mengenai perlunya menghantar Syeikh Taqiyuddin ke al-Azhar untuk melanjutkan pendidikan beliau dalam ilmu syariah.


Ilmu dan Pendidikan

Syeikh Taqiyuddin menerima pendidikan dasar mengenai ilmu syariah dari ayah dan datuk beliau, yang telah mengajarkan Al-Quran sehingga beliau hafal al-Quran seluruhnya sebelum baligh. Di samping itu, beliau juga mendapatkan pendidikan awalnya di sekolah tempatan iaitu di sekolah awal daerah Ijzim. Kemudian beliau berpindah ke Akka untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah. Sebelum beliau menamatkan sekolahnya di Akka, beliau telah bertolak ke Kaherah untuk meneruskan pendidikannya di al-Azhar, menyahut saranan dari datuknya, Syeikh Yusuf an-Nabhani.


Syeikh Taqiyuddin kemudian meneruskan pendidikannya di Tsanawiyah al-Azhar pada tahun 1928 dan pada tahun yang sama beliau meraih ijazah dengan predikat sangat memuaskan (mumtaz jiddan). Lalu beliau melanjutkan pembelajarannya di Kulliyah Darul Ulum yang waktu itu merupakan cabang al-Azhar dan secara bersamaan beliau juga belajar di Universiti al-Azhar. Beliau banyak menghadiri halqah-halqah ilmiah di al-Azhar yang dianjurkan oleh tokoh-tokoh ulama al-Azhar, seperti Syeikh Muhammad Al-Khidir Husain –rahimahullah– seperti yang pernah disarankan oleh datuk beliau. Menurut sistem lama al-Azhar, para mahasiswanya dapat memilih beberapa orang syeikh al-Azhar dan menghadiri halqah-halqah mereka dalam ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu syariah lainnya seperti fiqih, usul fiqih, hadis, tafsir, tauhid dan sebagainya.


Walaupun Syeikh Taqiyuddin berada dalam sistem pembelajaran al-Azhar yang lama dengan Darul Ulum, akan tetapi beliau tetap menampakkan keunggulan dan keistimewaan dalam setiap pembelajarannya. Syeikh Taqiyuddin telah menarik perhatian kawan-kawan dan para gurunya kerana kedalamannya dalam berfikir serta kuatnya pendapat serta hujah yang beliau lontarkan dalam perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi ilmiah yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga ilmu yang ada pada waktu itu, baik di Kaherah mahupun di negeri-negeri Islam lainnya. Syeikh Taqiyuddin menamatkan kuliahnya di Darul Ulum pada tahun 1932 dan pada tahun yang sama beliau menamatkan pula kuliahnya di al-Azhar asy-Syarif


Dalam forum-forum halqah ilmiah yang diikuti oleh Syeikh Taqiyuddin, beliau amat dikenali oleh kawan-kawan dan sahabat-sahabat terdekatnya dari kalangan al-Azhar, sebagai seorang yang berfikiran tajam dan genius. Ini kerana, beliau akan memberikan hujah dan pendapat yang begitu kuat dan mendalam yang akan membuatkan orang tertarik dan yakin terhadap pandangannya.

Ijazah yang diraih oleh Syeikh Taqiyuddin antaranya adalah:

1. Ijazah Tsanawiyah al-Azhariyah
2. Ijazah al-Ghuraba’ dari al-Azhar
3. Diploma Bahasa dan Sastera Arab dari Dar al-Ulum;
4. Ijazah dalam Peradilan dari Ma‘had al-Ali li al-Qadha’ (Sekolah Tinggi
Peradilan), salah satu cabang al-Azhar.

5. Pada tahun 1932 beliau meraih Syahadah al-‘Alamiyyah (Ijazah Internasional) Syariah dari Universiti al-Azhar asy-Syarif dengan mumtaz jiddan.


Aktiviti Beliau Setelah Tamat Kuliah

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani kembali ke Palestin, dan kemudian bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah menengah tempatan di Haifa di bawah Kementerian Pendidikan Palestin. Di samping itu, beliau juga mengajar di sebuah Madrasah Islamiyyah lain di Haifa.


Beliau sering berpindah-randah lebih dari satu daerah dan sekolah semenjak tahun 1932 sehingga tahun 1938. Beliau kemudiannya mengajukan permohonan untuk bekerja di Mahkamah Syariah, kerana beliau melihat pengaruh imperialis Barat (“westernisasi”) dalam bidang pendidikan yang ternyata lebih besar daripada bidang peradilan. Dalam hal ini beliau berkomentar:


“Adapun golongan terpelajar, maka para penjajah di sekolah-sekolah missionaris mereka telah menetapkan sendiri kurikulum-kurikulum pendidikan dan tsaqafah berdasarkan falsafah dan hadharah (peradaban) yang khas dari kehidupan mereka, baik sebelum adanya pendudukan kaum imperialis tersebut mahupun sesudahnya. Lalu, tokoh-tokoh Barat dijadikan sumber tsaqafah (kebudayaan) sebagaimana sejarah dan kebangkitan barat dijadikan sumber asal bagi apa yang merosakkan cara berfikir kita.”


Oleh sebab itu, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani lalu menjauhi bidang pengajaran dalam Kementerian Pendidikan, dan mulai mencari pekerjaan lain dengan pengaruh peradaban Barat yang relatif lebih sedikit. Beliau tidak melihat pekerjaan yang lebih utama selain pekerjaan di Mahkamah Syariah yang dipandangnya merupakan lembaga yang menerapkan hukum-hukum syara’. Dalam hal ini beliau berkata,


“Adapun an-Nizhamul Ijtima’iy, yang mengatur hubungan lelaki dan wanita, dan segala hal yang terbit darinya (yakni al-Ahwalu asy-Syakhshiyyah), tetap menerapkan syari’at Islam sehingga sekarang, meskipun telah berlaku penjajahan dan penerapan hukum-hukum kufur. Tidak diterapkan sama sekali selain syariat Islam dalam bidang itu sehingga saat ini…”


Maka dari itu, Syeikh Taqiyuddin sangat berkeinginan untuk bekerja di Mahkamah Syariah. Dan ternyata banyak kawan beliau (yang pernah sama-sama belajar di al-Azhar) bekerja di sana. Dengan bantuan mereka, Syeikh Taqiyuddin akhirnya diberi jawatan sebagai setiausaha di Mahkamah Syariah Beisan. Beliau kemudian dipindahkan ke Thabriya. Namun demikian, kerana beliau mempunyai cita-cita dan pengetahuan dalam masalah peradilan, maka beliau mengajukan permohonan kepada al-Majlis al-Islami al-A’la, agar menerima permohonannya untuk mendapatkan tanggungjawab menangani peradilan. Dalam hal ini, beliau merasakan dirinya mempunyai kelayakan yang mencukupi untuk menangani masalah peradilan.


Setelah lembaga peradilan menerima permohonannya, lalu beliau ke Haifa sebagai ketua setiausaha (Basy Katib) di Mahkamah Syariah Haifa. Kemudian pada tahun 1940, beliau diangkat sebagai Musyawir (Penolong Qadhi) dan beliau terus memegang kedudukan ini hingga tahun 1945, yakni saat beliau dipindah ke Ramallah untuk menjadi qadhi di Mahkamah Ramallah sehingga tahun 1948. Setelah itu, beliau keluar dari Ramallah menuju Syam setelah Palestin jatuh ke tangan Yahudi.


Pada tahun 1948 itu pula, sahabatnya al-Ustadz Anwar al-Khatib mengirim surat kepada beliau, yang isinya meminta beliau agar kembali ke Palestin untuk diangkat sebagai qadhi di Mahkamah Syariah al-Quds. Syeikh Taqiyuddin menerima permintaan itu dan kemudian beliau diangkat sebagai qadhi di Mahkamah Syariah al-Quds pada tahun 1948.


Kemudian, Al Ustadz Abdul Hamid As-Sa’ih iaitu Ketua Mahkamah Syariah dan Ketua Mahkamah Isti’naf pada waktu itu, telah mengangkat Syeikh Taqiyuddin sebagai anggota Mahkamah Isti’naf, dan beliau tetap memegang kedudukan itu sehingga tahun 1950. Pada tahun 1950 inilah, beliau lalu mengajukan permohonan mengundurkan diri, kerana beliau mencalonkan diri untuk menjadi anggota Majlis Niyabi (Majlis Perwakilan).


Pada tahun 1951, Syeikh an-Nabhani berkunjung ke kota Amman untuk menyampaikan ceramah-ceramahnya kepada para pelajar Madrasah Tsanawiyah di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah. Usaha beliau ini berterusan sehingga awal tahun 1953, ketika beliau mulai sibuk dengan penubuhan Hizbut Tahrir, yang telah beliau rintis antara tahun 1949 hingga 1953.


Aktiviti Politik An-Nabhani

Sejak remaja Syeikh an-Nabhani sudah memulai aktiviti politiknya kerana pengaruh datuknya, Syeikh Yusuf an-Nabhani, yang pernah terlibat dengan diskusi-diskusi dengan orang-orang yang terpengaruh dengan peradaban Barat, seperti Muhammad Abduh, para pengikut idea pembaharuan, tokoh-tokoh Freemason, dan pihak-pihak lain yang tidak puas hati dan membangkang terhadap Daulah Utsmaniyah. Sejak usia muda, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani telah bergelut dengan masalah-masalah politik ketika dibimbing oleh datuknya. Begitu pula ketika beliau mengikuti kuliah di Dar al-Ulum dan al-Azhar, Teman-teman beliau semasa kuliah menceritakan aktiviti beliau yang tidak pernah lelah dalam diskusi politik dan keilmuan. Mereka juga sangat menghargai sumbangan beliau dalam sejumlah diskusi politik. Di dalamnya beliau senantiasa mengkritik kemunduran umat serta mendorong aktiviti politik dan intelektual untuk membangkitkan umat dan mewujudkan kembali Daulah Islam. Beliau juga menggunakan kesempatan itu untuk mendorong dan mendesak para ulama al-Azhar dan lembaganya memainkan peranan aktif dalam membangkitkan umat.


Perdebatan-perdebatan politik dan aktiviti dakwah di antara para mahasiswa di al-Azhar dan di Kulliyah Darul Ulum, telah menyingkapkan pula keprihatinan Syeikh Taqiyuddin akan masalah-masalah politik. Beberapa orang sahabatnya telah menceritakan sikap-sikapnya yang melaungkan seruan-seruan yang bersifat menentang, yang mampu memimpin situasi al-Azhar saat itu. Di samping itu, beliau juga melakukan berbagai perdebatan dengan para ulama al-Azhar mengenai apa yang harus dilakukan dengan serius untuk membangkitkan umat Islam. Setelah kembali dari pembelajarannya di al-Azhar, beliau tetap memerhatikan usaha-usaha “westernisasi” umat Islam yang dilakukan oleh para penjajah seperti Inggeris dan Perancis. Beliau juga banyak menjalin hubungan dan berdialog dengan para ulama, tokoh pergerakan dan tokoh masyarakat setempat dalam usaha beliau membangkitkan kembali umat Islam.


Sebenarnya ketika Syeikh An-Nabhani kembali dari Kaherah ke Palestin, iaitu ketika beliau menjalankan tugasnya di Kementerian Pendidikan Palestin, beliau sudah melakukan kegiatan yang cukup menarik perhatian, yakni memberikan kesedaran kepada para murid yang diajarnya dan orang-orang yang ditemuinya mengenai situasi yang ada pada saat itu. Beliau juga membangkitkan perasaan marah dan benci terhadap penjajah Barat dalam jiwa muridnya, di samping memperbaharui semangat mereka untuk berpegang teguh terhadap Islam. Beliau menyampaikan semua ini melalui khutbah-khutbah, dialog-dialog, dan perdebatan-perdebatan yang beliau lakukan. Pada setiap topik yang beliau sajikan. Hujah beliau senantiasa kuat. Beliau memang dikenal mempunyai kemampuan yang tinggi untuk meyakinkan orang lain.


Ketika beliau berpindah pekerjaan ke bidang peradilan, lalu beliau berusaha menjalin hubungan dengan para ulama yang beliau kenal dan beliau temui di Mesir. Kepada mereka beliau mengajukan idea untuk membentuk sebuah parti politik yang berasaskan Islam untuk membangkitkan kaum Muslimin dan mengembalikan kemuliaan dan kejayaan mereka.


Untuk tujuan ini pula, beliau berpindah-randah dari satu kota ke kota lain di Palestin dan mengajukan idea yang sudah mendarah daging dalam jiwa beliau itu kepada tokoh-tokoh terkemuka, baik dari kalangan ulama’ mahupun para pemikir. Kedudukan beliau di Mahkamah Isti’naf di al-Quds sangat membantu aktiviti beliau ini.


Dengan kelebihannya, beliau dapat menyelenggarakan berbagai seminar dan mengumpulkan para ulama dari berbagai kota di Palestin. Dalam kesempatan itu, beliau mengadakan dialog dengan mereka mengenai metode kebangkitan yang benar. Beliau banyak berdebat dengan para pendiri organisasi-organisasi sosial Islam (Jam’iyat Islamiyah) dan parti-parti politik yang bercorak nasionalis dan patriotik. Beliau menjelaskan kekeliruan langkah mereka, kesalahan pemikiran mereka, dan rosaknya kegiatan mereka. Selain itu, beliau juga sering melontarkan pelbagai masalah politik dalam khutbah-khutbah beliau dan pada majlis-majlis keagamaan di masjid-masjid, termasuklah di Masjidil Aqsa, masjid al-Ibrahim al-Khalil (Hebron) dan lain-lain.


Dalam kesempatan seperti itu, beliau selalu menyerang sistem-sistem pemerintahan di negeri-negeri Arab, dengan menyatakan bahawa semua itu merupakan rekayasa penjajah Barat, dan merupakan salah satu sarana penjajah Barat agar dapat terus mencengkam negeri-negeri umat Islam. Beliau juga sering membongkar strategi-strategi politik negara-negara Barat dan mengungkap niat-niat jahat mereka untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Selain itu, beliau berpandangan bahawa kaum Muslimin berkewajiban untuk mendirikan parti politik yang berasaskan Islam.


Semua ini ternyata membuat Raja Abdullah bin al-Hussain marah, lalu dipanggillah Syeikh an-Nabhani untuk menghadap kepadanya, terutama kerana khutbah yang pernah beliau sampaikan di Masjid Raya Nablus. Beliau diminta hadir di suatu majlis lalu ditanya oleh Raja Abdullah mengenai apa yang menyebabkan beliau menyerang sistem-sistem pemerintahan di negeri-negeri Arab, termasuk juga negeri Jordan. Namun Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani tidak menjawab pertanyaan itu, malah berpura-pura tidak mendengar. Ini menyebabkan Raja Abdullah mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali. Akan tetapi Syeikh Taqiyuddin tetap tidak menjawabnya.


Maka Raja Abdullah pun naik marah dan berkata kepada beliau, “Apakah kamu akan menolong dan melindungi orang yang kami tolong dan lindungi, dan apakah kamu juga akan memusuhi orang yang kami musuhi?”


Lalu, Syeikh Taqiyuddin berkata kepada dirinya sendiri, “Kalau aku lemah untuk mengucapkan kebenaran hari ini, lalu apa yang harus aku ucapkan kepada orang-orang sesudahku nanti?”


Kemudian Syeikh Taqiyuddin bangkit dari tempat duduknya seraya berkata, “Aku berjanji kepada Allah, bahawa aku akan menolong dan melindungi agamaNya dan akan memusuhi orang yang memusuhi (agama)Nya. Dan aku amat membenci sikap nifaq dan orang-orang munafik!”


Maka merah padamlah muka Raja Abdullah mendengarkan jawaban itu, sehingga dia lalu mengeluarkan perintah untuk menangkap Syeikh Taqiyuddin dan mengusirnya keluar dari majlis tersebut. Dan kemudian Syeikh Taqiyuddin benar-benar ditangkap. Namun, Raja Abdullah kemudiannya menerima permohonan maaf dari beberapa ulama atas sikap Syeikh Taqiyuddin tersebut lalu memerintahkan pembebasannya, sehingga Syeikh Taqiyuddin tidak sempat bermalam di tahanan.


Syeikh Taqiyuddin lalu kembali ke Al-Quds dan sebagai kesan dari kejadian tadi, beliau mengajukan pengunduran diri dan menyatakan, “Sesungguhnya orang-orang seperti saya sebaiknya tidak bekerja melaksanakan tugas pemerintahan apa pun.”


Syeikh Taqiyuddin kemudian mengajukan pencalonan dirinya untuk menduduki Majlis Perwakilan. Namun, oleh kerana sikapnya yang tegas, aktiviti politik serta usahanya yang bersungguh-sungguh untuk membentuk sebuah parti politik, dan keteguhannya berpegang kepada agama, maka akhirnya hasil undian menunjukkan bahawa Syeikh Taqiyuddin dianggap tidak layak untuk duduk dalam Majlis Perwakilan.


Namun demikian, aktiviti politik Syeikh Taqiyuddin tidak pernah terkandas dan tekadnya pun tidak pernah luntur. Beliau terus mengadakan pertemuan dan diskusi-diskusi, sehingga akhirnya beliau berhasil meyakinkan sejumlah ulama dan qadhi terkemuka serta para tokoh politik dan pemikir untuk membentuk sebuah parti politik yang berasaskan Islam. Setelah itu, beliau memberikan kepada mereka kerangka organisasi bagi penubuhan suatu parti dan konsep-konsep pemikiran yang dapat digunakan sebagai bekal tsaqafah bagi parti tersebut. Ternyata, pemikiran-pemikiran beliau ini dapat diterima dan dipersetujui oleh para ulama tersebut. Bermula dari sini, maka aktiviti beliau mula difokuskan kepada usaha pembentukan dan penubuhan Hizbut Tahrir.


Syeikh Taqiyuddin mula melakukan persiapan yang sesuai untuk struktur parti, pemikiran parti dan sebagainya. Persiapan awal ini sebenarnya bermula sejak 1949 lagi ketika beliau masih menjawat jawatan Qadhi di al-Quds. Pada tahun 1950 beliau menulis buku beliau yang pertama, iaitu Inqadz Filisthin (Membebaskan Palestin) di mana beliau merungkai akar yang sangat dalam, bahawa Islam telah hadir di Palestin sejak abad VII lagi, dan sebab utama kemunduran yang menerkam masyarakat Arab adalah kerana mereka telah menarik diri (dari Islam) dan menyerahkan diri pada kekuasaan penjajah. Jatuhnya Palestin ke tangan Yahudi tahun 1948 memberikan keyakinan kepada beliau, bahawa hanya aktiviti yang terorganisasi dan memiliki akar pemikiran Islam yang kuat sahajalah yang akan dapat mengembalikan kekuatan dan keagungan umat Islam.


Pada tahun 1950, An-Nabhani bercadang menghadiri satu Persidangan Kebudayaan Liga Arab di Alexandria, Mesir, namun beliau telah dihalang. Padahal, Menteri Pendidikan dan Qadhi Qudhat (Hakim Agung) waktu itu, iaitu Syeikh Muhammad al-Amin as-Sanqaythi, telah pun mengizinkannya untuk hadiri. Akhirnya, beliau mengirimkan surat yang sangat panjang kepada para peserta persidangan yang kemudian dikenali sebagai Risalah al-Arab. Beliau menekankan bahawa misi yang benar dan hakiki untuk Arab adalah Islam. Hanya dengan Islam sahajalah pemikiran dan kebangkitan kembali politik umat akan boleh dicapai. Malangnya tidak ada respons sama sekali dari para anggota persidangan terhadap surat ini. Hal ini lebih menguatkan keyakinan Syeikh Taqiyuddin sebelumnya, bahawa pendirian parti politik menjadi perkara yang sangat penting dan mendasar.


Oleh kerana itu, pada akhir 1952 dan awal 1953, seluruh persiapan diwujudkan dalam langkah yang praktis untuk mengumumkan kewujudan dan penubuhan Hizbut Tahrir. Lalu pada tahun 1953, Hizbut Tahrir telah didirikan dengan rasminya oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani di al-Quds.


Undang-undang kepartian Utsmani waktu itu masih diterapkan di Palestin. Ia memperuntukkan bahawa, cukup dengan telah disampaikannya permintaan penubuhan parti ke lembaga tertentu, dan cukup dengan publikasi bahawa permintaan itu telah diterima dan publikasi pendirian parti dilakukan, maka itu sudah dinilai sebagai izin rasmi bagi penubuhan parti dan izin bagi parti untuk melaksanakan aktivitinya. Saat itu belum ditetapkan aturan kepartian yang baru. Justeru, pengumuman mengenai pembentukan Hizbut Tahrir telah tersiar di Harian ash-Sharih edisi 14 Mac 1953, pada saat Syeikh Taqiyuddin mengajukan permohonan rasmi kepada Departemen Dalam Negeri Jordan. Di dalam surat itu, terdapat permohonan agar Hizbut Tahrir dibolehkan melakukan aktiviti politiknya. Di dalam surat tersebut juga, terdapat pula struktur organisasi Hizbut Tahrir dengan susunan sebagai berikut:

1. Taqiyuddin An-Nabhani, sebagai pemimpin/ketua Hizbut Tahrir.
2. Dawud Hamdan, sebagai wakil pemimpin merangkap Setiausaha.
3. Ghanim Abduh, sebagai Bendahara.
4. Dr. Adil An-Nablusi, sebagai anggota.
5. Munir Syaqir, sebagai anggota.


Dengan permohonan yang diajukan tersebut, diharapkan agar pihak berkuasa dapat memaklumi penubuhan sebuah parti politik iaitu Hizbut Tahrir. Lalu, Hizbut Tahrir telah menyewa sebuah rumah di kota al-Quds dan memasang papan tanda yang memaparkan nama “Hizbut Tahrir”. Akan tetapi Departemen Dalam Negeri Jordan terus mengirimkan sepucuk surat kepada Hizbut Tahrir yang melarangnya untuk melakukan aktivitinya. Di bawah ini adalah teks suratnya :


------------------------

No: ND/70/52/916

Tarikh: 14 Mac 1953


Kepada Yang Terhormat,

Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani

dan seluruh pendiri Hizbut Tahrir

Saya telah meneliti berita yang disiarkan oleh surat khabar as-Sharih edisi hari ini yang berjudul, “Organisasi Pembebasan (Hai’atut Tahrir) : Pembentukan Parti Politik Secara Rasmi di Al Quds.”


Saya berharap dapat memberi pengertian kepada anda sekalian, bahawa apa yang disiar mengenai pembentukan parti secara rasmi di al-Quds itu, ternyata tidak dapat dibenarkan. Selain itu, kami ingin maklumkan bahawa surat balasan yang anda terima dari ketua pejabat saya, menunjukkan bahawa permohonan anda telah sampai kepada saya. Bahawasanya, Undang-Undang Dasar (Perlembagaan) yang ada tidak mengizinkan aktiviti anda sekalian. Hal itu kerana permohonan pembentukan parti, tergantung kepada kepentingan negara – seperti yang saya lampirkan melalui beberapa catatan yang dikirimkan kepada anda sekalian, yang ternyata tidak mengizinkan adanya pendirian parti.


Atas Nama Departemen Dalam Negeri,

Ali Hasanah

------------------------

Atas perintah pihak penguasa setelah datangnya surat tersebut, pihak polis segera menyerbu rumah yang disewa oleh Hizbut Tahrir tadi dan terus mencabut papan tanda (nama) yang ada di sana. Hizbut Tahrir lalu dilarang untuk melakukan sebarang kegiatan. Sejak saat itu, dan bahkan sehingga saat ini, Hizbut Tahrir tidak dibenarkan melakukan aktiviti politiknya secara bebas.


Namun demikian, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani sama sekali tidak peduli dan tidak memperhitungkan semua itu. Bahkan, beliau tetap teguh dengan pendiriannya untuk melanjutkan misinya menyebarkan risalah yang telah beliau yakini sebagai asas-asas bagi Hizb. Beliau memang sangat menaruh harapan untuk membangkitkan umat Islam melalui Hizbut Tahrir, iaitu gerakan yang telah beliau dirikan dan yang beliau telah tetapkan falsafahnya dengan karakter-karakter tertentu yang beliau gali dari nas-nas syara’ dan sirah Rasulullah SAW.


Oleh kerana itu, Syeikh Taqiyuddin kemudian menjalankan aktivitinya secara rahsia dan segera membentuk Dewan Pimpinan (qiyadah) yang baru bagi Hizb, di mana beliau sendiri yang menjadi pucuk pimpinannya. Dewan Pimpinan ini dikenal dengan sebutan Lajnah Qiyadah. Beliau terus memegang kepemimpinan Dewan Pimpinan Hizbut Tahrir ini sehingga wafatnya pada tanggal 25 Rejab 1398H, bertepatan dengan 20 Jun 1977M.


Pada tahun yang sama (1953), pada masa kabinet Tawfiq Abdul Hadi, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani bersama Ustadz Dawud Hamdan ditangkap di Al-Quds, sementara Munir Syaqir dan Ghanim Abduh ditangkap di Amman. Beberapa hari berikutnya, Dr. Abdul Aziz al-Khiyath turut ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.


Pada waktu itu Hizbut Tahrir berhasil meyakinkan sejumlah wakil rakyat dan orang-orang kabinet di Amman. Akhirnya, sekelompok wakil rakyat, peguam, peniaga dan sejumlah orang yang memiliki kedudukan mengirimkan petisyen yang menuntut pihak berkuasa yang berkenaan agar membebaskan Syeikh Taqiyuddin dan teman-temannya. Petisyen itu ditandatangani oleh seramai 37 orang.


Dr. Abdul Aziz Al-Khiyath menceritakan,

“Tiga hari setelah saya masuk penjara, di pejabat ketua penjara, seorang yang sangat baik, H. Salim, terjadi diskusi antara kami dan utusan ketua Kabinet, Muhammad Ali Badir, Rasyid al-Khiyath, dan seorang wakil rakyat, Rasyad Thawqan. Diskusi membahas dakwah Islamiyah dan aktiviti Hizbut Tahrir. Kami menyatakan bahawa dalam aktiviti kami tidak ada yang menyalahi undang-undang, tidak ada seruan revolusi ataupun huru-hara, bahkan tidak ada seruan kepada kekerasan. Kami tidak lain kecuali menyerukan pemikiran kami dengan metode yang damai dan hal itu dijamin oleh Perlembagaan. Mereka sefahaman dengan kami. Hari berikutnya, kami dibebaskan.”


Glubb Pasya, seorang Inggeris yang kala itu menjadi Ketua Staf Angkatan Bersenjata Jordan, yang disebut Arab Legion of Inggeris Army -dialah yang sebenar-benarnya berkuasa di Jordan- mendesak pemerintahan boneka di Jordan untuk menggunakan semua sarana yang diperlukan untuk 'mencekup' Hizbut Tahrir dan aktivitinya. Pada tahun 1954 dikeluarkan Qanun al-Wa’zhu wa al-Irsyad yang menghalang seseorang dari menyampaikan ceramah, khutbah, atau pengajaran di masjid kecuali mendapat izin rasmi dari Qadhi Qudhat. Atas dasar UU ini, sejumlah tokoh Hizbut Tahrir ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.


Pada November 1953, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani berpindah ke Damaskus dan menyebarkan dakwah di sana, tetapi telah diheret oleh perisik Syiria ke perbatasan Syria-Lebanon. Namun, atas bantuan Mufti Lebanon, Syeikh Hasan al-‘Alaya, akhirnya beliau diizinkan masuk ke Lebanon yang mana sebelumnya dihalang begitu rupa.


Beliau lalu menyebarkan pemikiran Islam di Lebanon dengan leluasa sehingga tahun 1958, iaitu ketika pemerintah Lebanon mulai mempersempit kehidupan beliau kerana merasakan bahaya dari pemikiran yang beliau bawa. Akhirnya, beliau berpindah dari Beirut ke Tharablus dan terpaksa mengubah penampilan bagi membolehkan beliau menjalankan kepemimpinan Hizbut Tahrir.


Selama itu, beliau terus memegang Qiyadah (Kepemimpinan) HT. Beliau juga terus memantau berita baik dari surat khabar, berbagai media, radio, dan sebagainya, yang kemudiannya menulis analisis politik dan disebarkan atas nama HT.


Sepanjang masa kepemimpinannya, beliau telah melakukan berbagai kegiatan politik yang meluas di pelbagai tempat dan negara. Penyudah yang paling gemilang dari peninggalan beliau ialah beliau telah berjaya mewariskan kepada umat Islam di seluruh dunia, sebuah parti politik yang berasaskan Islam, yang teguh, mempunyai fikrah yang jernih dan kuat, dan kini tersebar luas di merata penjuru dunia .


Semua usaha beliau ini telah menjadikan Hizbut Tahrir sebagai sebuah parti politik internasional, dengan kekuatan Islam yang luar biasa, sehingga Hizbut Tahrir sangatlah diperhitungkan dan disegani oleh seluruh pemikir dan politikus, baik dari kaum Muslimin mahupun kuffar, baik yang bertaraf nasional mahupun internasional, walaupun dalam keadaan Hizbut Tahrir yang tetap dihalang dari beraktiviti di banyak negara di dunia.


Di bawah kepemimpinan beliau, Hizbut Tahrir telah berusaha mengambil alih kekuasaan di beberapa negara Arab, seperti di Jordan pada tahun 1969, di Mesir pada tahun 1973, dan di Iraq pada tahun 1972. Negara lain adalah seperti di Tunisia, Aljazair, dan Sudan. Sebahagian usaha ini disiarkan oleh media massa, sedang sebahagian lainnya memang sengaja tidak diumumkan oleh media.


Selain itu, Hizbut Tahrir telah mengeluarkan banyak selebaran (nasyrah) politik yang penting, yang mengungkapkan berbagai konspirasi jahat, baik dari pihak Barat mahupun agen-agen mereka dari kalangan penguasa kaum Muslimin, untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Hizbut Tahrir juga banyak mengirimkan memorandum politik penting kepada para politikus dan penguasa di pelbagai negeri-negeri umat Islam, dengan maksud agar mereka menukar sistem sekular yang sedia ada dengan sistem Khilafah, atau dengan maksud memberi nasihat dan peringatan atas tindakan-tindakan mereka yang dianggap sebagai pengkhianatan kepada umat Islam.


Hakikatnya, aktiviti politik merupakan aspek yang paling menonjol dalam kehidupan Syeikh Taqiyuddin. Bahkan, sehingga ada yang berpendapat bahawa beliau adalah Hizbut Tahrir itu sendiri, kerana kemampuan beliau yang tinggi untuk melakukan analisis politik, sebagaimana yang nampak dalam penulisan selebaran politik yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir. Beliau juga banyak menelaah peristiwa-peristiwa politik, lalu mendalaminya dengan amat cermat dan mendalam, disertai pemahaman sempurna terhadap situasi-situasi politik dan idea-idea politik yang ada.


Maka, mereka yang mencermati selebaran-selebaran politik yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir, juga kitab-kitab mengenai politik yang ditulis oleh Syeikh Taqiyuddin, serta garis-garis besar langkah politik yang beliau susun untuk membina pemikiran politik syabab Hizbut Tahrir, akan dapat menyimpulkan bahawa Syeikh Taqiyuddin memang benar-benar mempunyai kemampuan yang hebat dalam masalah politik. Sungguh, beliau termasuk salah seorang pemikir dan politikus terulung pada abad ke-20.


Karya-karya Beliau

Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani meninggal pada tahun 1398H / 1977M dan dikuburkan di Perkuburan Al-Auza’i, Beirut. Beliau telah meninggalkan karya-karya agung yang dapat dianggap sebagai kekayaan pemikiran yang tak ternilai harganya. Karya-karya ini menunjukkan bahawa Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani merupakan seorang yang mempunyai pemikiran yang genius dan seorang penganalisis yang unggul. Beliaulah yang menulis seluruh pemikiran dan pemahaman Hizbut Tahrir, baik yang berkenaan dengan hukum-hukum syara’, mahupun yang lainnya seperti masalah ideologi, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, uqubat dan sebagainya. Inilah yang mendorong sebahagian peneliti untuk mengatakan bahawa Hizbut Tahrir adalah Taqiyuddin An Nabhani, dan sehingga ada yang menyatakan bahawa Hizbut Tahrir adalah satu mazhab.


Kebanyakan karya Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani berupa kitab-kitab tanzhiriyah (penetapan pemahaman/pandangan) dan tanzhimiyah (penetapan peraturan), atau kitab-kitab untuk mengajak kaum Muslimin untuk mengembalikan semula kehidupan Islam dengan jalan mendirikan Daulah Khilafah Islamiyah. Al-Ustadz Dawud Hamdan telah menjelaskan karakter kitab-kitab Syeikh Taqiyuddin – yang termasuk kitab-kitab yang disebarluaskan oleh Hizbut Tahrir– secara mendalam dan tepat dengan pernyataannya,


“Sesungguhnya kitab ini –yakni kitab Ad Daulah Al-Islamiyyah– bukanlah sebuah kitab untuk sekadar dipelajari, akan tetapi kitab ini dan kitab lainnya yang telah disebarluaskan oleh Hizbut Tahrir –seperti kitab Usus An-Nahdhah, Nizhamul Islam, An-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam, An-Nizham Al-Iqthishady fi Al-Islam, Nizham Al-Hukm, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, At-Takatul Al-Hizbi, Mafahim Hizhut Tahrir, Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir– menurut saya adalah kitab yang benar-benar membangkitkan kaum Muslimin dengan jalan mengembalikan kehidupan Islam dan mengembang dakwah Islamiyah.”


Oleh kerana itu, kitab-kitab Syeikh Taqiyuddin terlihat istimewa kerana mencakup dan meliputi berbagai aspek kehidupan dan permasalahan manusia. Kitab-kitab yang mengupas aspek-aspek kehidupan individu, politik, kenegaraan, sosial dan ekonomi tersebut, merupakan landasan ideologi dan politik bagi Hizbut Tahrir, di mana Syeikh Taqiyuddin menjadi motornya (penggeraknya).

Oleh sebab karya-karya Syeikh Taqiyuddin mencakup pelbagai bidang, maka tak hairanlah jika karya-karya beliau mencapai lebih dari 30 kitab. Ini belum termasuk memorandum-memorandum politik yang beliau tulis untuk memecahkan permasalahan politik, serta nasyrah-nasyrah dan penjelasan-penjelasan mengenai masalah-masalah pemikiran dan masalah-masalah politik yang penting.

Karya-karya Syeikh Taqiyuddin, baik yang berkenaan dengan politik mahupun pemikiran, mempunyai satu identiti yang sama iaitu dengan adanya kesedaran, kecermatan dan kejelasan, serta sangat sistematik, sehingga beliau dapat menampilkan Islam sebagai ideologi yang sempurna dan komprehensif yang diistinbath dari dalil-dalil syar’i yang terkandung dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Karya-karya beliau dapat dikategorikan sebagai “buah pemikiran” pertama yang disajikan oleh seorang pemikir Muslim pada era moden ketika itu dan hingga kini.

Karya-karya Syeikh Taqiyuddin An Nabhani yang paling terkenal, yang memuat pemikiran dan ijtihad beliau antara lain :
1. Nizhamul Islam.
2. At Takattul Al Hizbi.
3. Mahafim Hizbut Tahrir
4. An Nizhamul Iqthishadi fil Islam.
5. An Nizhamul Ijtima’i fil Islam.
6. Nizhamul Hukm fil Islam.
7. Ad Dustur.
8. Muqaddimah Dustur.
9. Ad Daulatul Islamiyah.
10. Asy Syakhshiyah Al Islamiyah (3 jilid).
11. Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir.
12. Nazharat Siyasiyah li Hizbit Tahrir.
13. Nida’ Haar.
14. Al-Khilafah.
15. At-Tafkir.
16. Ad-Dusiyah.
17. Sur’atul Badihah.
18. Nuqthatul Inthilaq.
19. Dukhu Al-Mujtama’.
20. Inqadzu Filisthin.
21. Risalatul Arab.
22. Tasalluh Mishr.
23. Al-Ittifaqiyyah Ats-Tsana’iyyah Al-Mishriyyah As-Suriyyah wal Yamaniyyah

24. Hallu Qadhiyah Filisthin ala Ath-Thariqah Al-Amrikiyyah wal Inkiliziyyah.

25. Nazhariyatul Firagh As-Siyasi Haula Masyru’ Aizanhawar.


Semua ini tidak termasuk ribuan selebaran-selebaran (nasyrah) mengenai pemikiran, politik, dan ekonomi serta beberapa kitab yang dikeluarkan oleh Syeikh Taqiyuddin atas nama anggota Hizbut Tahrir –dengan maksud agar kitab-kitab itu mudah beliau sebarluaskan– setelah adanya undang-undang yang melarang peredaran kitab-kitab karya beliau. Di antara kitab itu adalah :

1. As-Siyasah Al-Iqthishadiyah Al-Mutsla.
2. Naqdlul Isytirakiyah Al-Marksiyah.
3. Kaifa Hudimat Al-Khilafah.
4. Ahkamul Bayyinat.
5. Nizhamul Uqubat.
6. Ahkamush Shalat.
7. Al-Fikru Al-Islami.


Dan apabila karya-karya Syeikh Taqiyuddin tersebut ditelaah dengan ikhlas, adil dan saksama, terutama yang berkenaan dengan aspek hukum dan ilmu usul, akan nampak bahawa beliau sesungguhnya adalah seorang mujtahid yang mengikuti metode para fuqaha dan mujtahidin yang terdahulu. Hanya saja, beliau tidak pernah mengikuti salah satu mazhab/aliran dalam berijtihad, baik mazhab akidah seperti Ahlus Sunah atau Syiah, mahupun mazhab fiqh seperti Syafie, Maliki, Hanafi, Hambali dan sebaginya. Dengan kata lain, beliau tidak pernah mengikuti dan tidak pernah mengisytiharkan bahawa beliau mengikuti suatu madzhab tertentu di antara madzhab-madzhab yang telah dikenal, akan tetapi beliau memilih dan menetapkan (mentabanni) usul fiqih beliau sendiri yang khusus baginya, dan dari situ beliau mengistinbat hukum-hukum syara’. Dan usul fiqh serta ijtihad beliau ini, sebahagian besarnya dijadikan pegangan oleh seluruh umat Islam yang bergabung di dalam Hizbut Tahrir.


Namun perlu diingat dan ditegaskan di sini, bahawasanya usul fiqih yang dibawa oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani tidaklah keluar dari metode fiqih yang benar sebagaimana salafu soleh, yang membatasi dalil-dalil syar’i pada Al-Kitab, As-Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qiyas syar’iy, semata-mata.

Wallahu a’lam.

Al Khilafah

AL KHILAFAH*

Oleh : M. Shiddiq Al-Jawi**

Definisi Khilafah

Al Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syari'at Islam dan mengemban da'wah Islam ke segenap penjuru dunia. Kata lain dari Khilafah adalah Imamah. Imamah dan Khilafah mempunyai arti yang sama. Banyak hadits shahih yang menunjukkan bahwa dua kata itu memiliki makna yang sama. Bahkan tidak ada satu nash pun, baik dalam Al Qur`an maupun Al Hadits, yang menyebutkan kedua istilah itu dengan makna yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Kaum muslimin boleh menggunakan salah satu dari keduanya, apakah istilah Khilafah ataupun Imamah. Sebab yang menjadi pegangan adalah makna yang ditunjukkan oleh kedua istilah itu.

Hukum Menegakkan Khilafah

Menegakkan Khilafah hukumnya fardlu (wajib) bagi seluruh kaum muslimin. Melaksanakan kewajiban ini —sebagaimana melaksanakan kewajiban lain yang telah dibebankan Allah kepada kaum muslimin— adalah suatu keharusan yang menuntut pelaksanaan tanpa tawar menawar lagi dan tidak pula ada kompromi. Melalaikannya adalah salah satu perbuatan maksiat yang terbesar dan Allah akan mengazab para pelakunya dengan azab yang sangat pedih.

Dalil-Dalil Wajibnya Khilafah

Dalil-dalil mengenai kewajiban menegakkan Khilafah bagi seluruh kaum muslimin adalah Al Qur`an, As Sunnah, dan Ijma' Shahabat.

A. Dalil Al-Quran

Dalam Al Qur`an, Allah SWT telah memerintahkan Rasulullah SAW untuk menegakkan hukum di antara kaum muslimin dengan hukum yang telah diturunkan-Nya. Dan perintah itu datang dalam bentuk yang pasti (jazim). Allah SWT berfirman :

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَائَهُمْ عَمَّا جَائَكَ مِنَ الْحَقِّ

"Maka putuskanlah perkara di antara manusia dengan apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu menuruti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." (Al Maa`idah: 48).

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنَزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَائَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ

"(Dan) hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu" (Al Maa`idah: 49).

Khithab (firman) Allah SWT yang ditujukan kepada Rasul-Nya juga merupakan seruan untuk umatnya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa khithab itu dikhususkan untuk beliau. Dalam hal ini tidak ditemukan dalil yang mengkhususkannya kepada Nabi, sehingga menjadi seruan yang juga ditujukan kepada kaum muslimin untuk menegakkan hukum. Tidak ada arti lain dalam mengangkat Khalifah kecuali menegakkan hukum dan pemerintahan.

Allah SWT juga memerintahkan agar kaum muslimin mentaati Ulil Amri, yaitu penguasa. Perintah ini juga termasuk di antara dalil yang menunjukkan kewajiban adanya penguasa atas kaum muslimin. Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kamu sekalian."

(An Nisaa`: 59).

Tentu saja Allah SWT tidak memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati seseorang yang tidak berwujud. Allah juga tidak mewajibkan mereka untuk mentaati seseorang yang keberadaannya berhukum mandub. Maka menjadi jelas bahwa mewujudkan ulil amri adalah suatu perkara yang wajib. Tatkala Allah memberi perintah untuk mentaati ulil amri, berarti Allah memerintahkan pula untuk mewujudkannya. Adanya ulil amri menyebabkan terlaksananya kewajiban menegakkan hukum syara', sedangkan mengabaikan terwujudnya ulil amri menyebabkan terabaikannya hukum syara'. Jadi mewujudkan ulil amri itu adalah wajib, karena kalau tidak diwujudkan akan menyebabkan terlanggarnya perkara yang haram, yaitu mengabaikan hukum syara'.

B. Dalil As-Sunnah

Sedangkan dalil dari As Sunnah, di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Nafi' yang berkata: Umar radliyallahu 'anhu telah berkata kepadaku: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةِ اللهِ لَقِيَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

"Siapa saja yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya ia akan berjumpa dengan Allah di Hari Kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang mati sedangkan di lehernya tidak ada bai'at, maka matinya adalah mati jahiliyyah".

Nabi SAW mewajibkan adanya bai'at pada leher setiap muslim dan mensifati orang yang mati dalam keadaan tidak berbai'at seperti matinya orang-orang jahiliyyah. Padahal bai'at hanya dapat diberikan kepada Khalifah, bukan kepada yang lain. Rasulullah telah mewajibkan atas setiap muslim agar di lehernya selalu ada bai'at kepada seorang Khalifah, namun tidak mewajibkan setiap muslim untuk melakukan bai'at kepada Khalifah secara langsung. Yang wajib adalah adanya bai'at pada leher setiap muslim, yaitu adanya seorang Khalifah yang dengan keberadaannya menyebabkan terwujudnya bai'at pada leher setiap muslim. Jadi keberadaan Khalifah itulah yang akan memenuhi tuntutan hukum adanya bai'at di atas leher setiap muslim, baik dia berbai'at secara langsung maupun tidak. Oleh karena itu, hadits di atas lebih tepat dijadikan dalil kewajiban mengangkat seorang Khalifah daripada dalil kewajiban berbai'at. Sebab, dalam hadits tersebut yang dicela oleh Rasulullah SAW adalah keadaan tiadanya bai'at pada leher setiap muslim hingga ia mati, bukan karena dia tidak melaksanakan bai'at.

Imam Muslim telah meriwayatkan dari Al A'raj dari Abi Hurairah dari Nabi SAW bersabda:

إِنَّمَا الإمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

"Sesungguhnya seorang Imam adalah laksana perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung.”

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abi Hazim yang berkata:

قَاعَدْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ خَمْسَ سِنِيْنَ فَسَمِعْتُهُ يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ اْلأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَتَكُونُ خُلَفَاءٌ فَتَكْثُرُ، قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا ؟ قَالَ: فُوا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ، وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

"Aku telah mengikuti majelis Abi Hurairah selama lima tahun, pernah aku mendengarnya menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW yang bersabda: 'Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, dia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan ada nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan ada banyak Khalifah'. Para shahabat bertanya: 'Apakah yang engkau perintahkan kepada kami?' Beliau menjawab: 'Penuhilah bai'at bagi yang pertama dan bagi yang pertama itu saja. Berikanlah kepada mereka haknya, karena Allah nanti akan menuntut pertanggung-jawaban mereka tentang rakyat yang dibebankan urusannya kepada mereka'".

Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

"Siapa saja yang membenci sesuatu dari amirnya (pemimpinnya) hendaknya ia tetap bersabar. Sebab, siapa saja yang keluar dari penguasa sejengkal saja kemudian mati dalam keadaan demikian, maka matinya adalah mati jahiliyyah".

Hadits-hadits ini di antaranya merupakan pemberitahuan (ikhbar) dari Rasulullah SAW bahwa akan ada penguasa-penguasa yang memerintah kaum muslimin, dan bahwa seorang Khalifah adalah laksana perisai. Pernyataan Rasulullah SAW bahwa seorang Imam itu laksana perisai menunjukkan pemberitahuan tentang adanya fungsi-fungsi dari keberadaan seorang Imam, dan ini merupakan suatu tuntutan. Sebab, setiap pemberitahuan yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya, apabila mengandung celaan (adz dzamm) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk meninggalkan, atau merupakan larangan; dan apabila mengandung pujian (al mad-hu) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk melakukan perbuatan. Dan kalau pelaksanaan perbuatan yang dituntut itu menyebabkan tegaknya hukum syara' atau jika ditinggalkan mengakibatkan terabaikannya hukum syara', maka tuntutan untuk melaksanakan perbuatan itu berarti bersifat pasti.

Dalam hadits-hadits ini juga disebutkan bahwa yang memimpin dan mengatur kaum muslimin adalah para Khalifah. Ini menunjukkan adanya tuntutan untuk mendirikan khilafah. Salah satu hadits tersebut ada yang menjelaskan keharaman kaum muslimin keluar dari penguasa. Semua ini menegaskan bahwa mendirikan pemerintahan bagi kaum muslimin statusnya adalah wajib.

Selain itu, Rasululah SAW juga memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati para Khalifah dan memerangi orang-orang yang merebut kekuasaan mereka. Perintah Rasulullah ini berarti perintah untuk mengangkat seorang Khalifah dan memelihara kekhilafahannya dengan cara memerangi orang-orang yang merebut kekuasaannya. Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:

وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيَطِعْهُ إِنِّ اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَآءَ آخَرُ يُنَازِعَهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخَرَ

"Siapa saja yang telah membai'at seorang Imam (Khalifah), lalu ia memberikan kepadanya genggaman tangan dan buah hatinya, hendaknya ia mentaatinya sesanggup-sanggupnya. Apabila ada orang lain hendak merebut kekuasaannya, maka penggallah leher orang itu".

Jadi perintah mentaati Imam berarti pula perintah mewujudkan sistem khilafahnya, sedang perintah memerangi orang yang merebut kekuasaannya merupakan isyarat (qarinah) yang menegaskan secara pasti akan keharusan melestarikan adanya Imam yang tunggal.

C. Dalil Ijma’ Shahabat

Adapun dalil Ijma' Shahabat menunjukkan bahwa para shahabat ridlwanullahi 'alaihim, telah bersepakat mengenai keharusan mengangkat seorang Khalifah sebagai pengganti Rasulullah SAW setelah beliau wafat. Mereka juga bersepakat mengangkat Khalifah sebagai pengganti Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan Utsman bin Affan.

Ijma' Shahabat yang menekankan pentingnya pengangkatan Khalifah, nampak jelas dalam kejadian bahwa mereka menunda kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah SAW dan mendahulukan pengangkatan seorang Khalifah pengganti beliau. Padahal menguburkan mayat secepatnya adalah suatu keharusan dan diharamkan atas orang-orang yang wajib menyiapkan pemakaman jenazah untuk melakukan kesibukan lain sebelum jenazah dikebumikan. Namun, para shahabat yang wajib menyiapkan pemakaman jenazah Rasulullah SAW ternyata sebagian di antaranya justru lebih mendahulukan upaya-upaya untuk mengangkat Khalifah daripada menguburkan jenazah Rasulullah. Sedangkan sebagian shahabat lain mendiamkan kesibukan mengangkat Khalifah tersebut, dan ikut pula bersama-sama menunda kewajiban menguburkan jenazah Nabi SAW sampai dua malam, padahal mereka mampu mengingkari hal ini dan mampu mengebumikan jenazah Nabi secepatnya. Fakta ini menunjukkan adanya kesepakatan (ijma’) mereka untuk segera melaksanakan kewajiban mengangkat Khalifah daripada menguburkan jenazah. Hal itu tak mungkin terjadi kecuali jika status hukum mengangkat seorang Khalifah adalah lebih wajib daripada menguburkan jenazah.

Demikian pula bahwa seluruh shahabat selama hidup mereka telah bersepakat mengenai kewajiban mengangkat Khalifah. Walaupun sering muncul perbedaan pendapat mengenai siapa yang tepat untuk dipilih dan diangkat menjadi Khalifah, namun mereka tidak pernah berselisih pendapat sedikit pun mengenai wajibnya mengangkat seorang Khalifah, baik ketika wafatnya Rasulullah SAW maupun ketika pergantian masing-masing Khalifah yang empat. Oleh karena itu Ijma' Shahabat merupakan dalil yang jelas dan kuat mengenai kewajiban mengangkat Khalifah.

D. Dalil Qaidah Syar’iyyah

Selain itu, menegakkan agama dan melaksanakan hukum syara' pada seluruh aspek kehidupan dunia maupun akhirat adalah kewajiban yang dibebankan atas seluruh kaum muslimin berdasarkan dalil yang qath'iyuts tsubut (pasti sumbernya) dan qath'iyud dalalah (pasti maknanya). Kewajiban tersebut tidak mungkin bisa dilaksanakan dengan sempurna kecuali dengan adanya seorang penguasa. Kaidah syara' menyatakan:

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِب

"Apabila suatu kewajiban tidak dapat terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya adalah wajib."

Ditinjau dari kaidah ini, mengangkat seorang Khalifah hukumnya wajib pula.

Dalil-dalil ini semuanya menegaskan wajibnya mewujudkan pemerintahan dan kekuasaan bagi kaum muslimin; dan juga menegaskan wajibnya mengangkat seorang Khalifah untuk memegang wewenang pemerintahan dan kekuasaan. Kewajiban mengangkat Khalifah tersebut adalah demi melaksanakan hukum-hukum syara', bukan demi mewujudkan pemerintahan dan kekuasaan itu sendiri. Perhatikanlah sabda Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalan 'Auf bin Malik:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَارَسُوْلَ اللهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالْسَيْفِ، فَقَالَ: لاَ، مَا أَقَامُوْا فِيْكُمْ الصَّلاَةَ،

"Sebaik-baik Imam (Khalifah) kalian ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk Imam kalian ialah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian". Ditanyakan kepada Rasulullah, 'Wahai Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka itu?' Beliau menjawab, "Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat (hukum Islam) di tengah-tengah kamu sekalian."

Hadits ini menegaskan akan adanya Imam-Imam yang baik dan Imam-Imam yang jahat, selain menegaskan keharaman memerangi mereka dengan senjata selama mereka masih menegakkan agama. Karena ungkapan “menegakkan shalat” merupakan kinayah (kiasan) untuk mendirikan agama dan sistem pemerintahan. Dengan demikian jelaslah bahwa kewajiban kaum muslimin untuk mengangkat seorang Khalifah —demi menegakkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah— merupakan suatu perkara yang tidak ada lagi syubhat (kesamaran) pada dalil-dalilnya. Selain itu, mewujudkan kekuasaan adalah wajib ditinjau dari segi bahwa ia diharuskan oleh suatu kewajiban yang difardlukan Allah SWT atas kaum muslimin, yakni terlaksananya hukum Islam dan terpeliharanya kesatuan kaum muslimin.

Hanya saja kewajiban ini termasuk fardlu kifayah. Artinya, apabila sebagian kaum muslimin telah melaksanakannya sehingga kewajiban tadi terpenuhi, maka gugurlah tuntutan pelaksanaan kewajiban itu bagi yang lain. Namun bila sebagian dari mereka belum mampu melaksanakan kewajiban itu, walaupun mereka telah melaksanakan upaya-upaya yang bertujuan mengangkat seorang Khalifah, maka status kewajiban tersebut tetap ada dan tidak gugur atas seluruh kaum muslimin, selama mereka belum mempunyai Khalifah.

Berdiam Diri dari Kewajiban Ini

Berdiam diri terhadap kewajiban mengangkat seorang Khalifah bagi kaum muslimin adalah satu perbuatan maksiat yang paling besar. Karena, hal itu berarti berdiam diri terhadap salah satu kewajiban yang amat penting dalam Islam, dimana tegaknya hukum-hukum Islam —bahkan eksistensi Islam dalam realitas kehidupan— bertumpu padanya. Oleh karena itu, seluruh kaum muslimin berdosa besar apabila berdiam diri terhadap kewajiban mengangkat seorang Khalifah. Kalau ternyata seluruh kaum muslimin bersepakat untuk tidak mengangkat seorang Khalifah, maka dosa itu akan ditanggung oleh setiap muslim di seantero penjuru bumi. Namun apabila sebagian kaum muslimin melaksanakan kewajiban itu sedangkan sebagian yang lain tidak melaksanakannya, maka dosa itu akan gugur bagi mereka yang telah berusaha mengangkat Khalifah, sekalipun kewajiban itu tetap dibebankan atas mereka sampai berhasil diangkatnya seorang Khalifah. Sebab, menyibukkan diri untuk melaksanakan suatu kewajiban akan menggugurkan dosa atas ketidak-mampuannya melaksanakan kewajiban tersebut dan atau penundaannya dari waktu yang telah ditetapkan. Hal ini karena dia telah terlibat melaksanakan fardlu dan juga karena adanya suatu kondisi yang memaksanya sehingga gagal melaksanakan fardlu itu dengan sempurna.

Ada pun bagi mereka yang memang tidak terlibat dalam aktivitas menegakkan Khilafah, akan tetap menanggung dosa sejak tiga hari setelah tidak adanya Khalifah. Dosa itu akan terus dipikulnya hingga hari pengangkatan Khalifah yang baru. Sebab, Allah SWT telah mewajibkan kepada mereka suatu kewajiban tetapi mereka tidak mengerjakannya, bahkan tidak terlibat dalam upaya-upaya yang menyebabkan terlaksananya kewajiban tersebut. Oleh karena itu, mereka layak menanggung dosa, serta layak menerima azab Allah dan kehinaan di dunia dan di akhirat. Kelayakan mereka menanggung dosa tersebut adalah suatu perkara yang jelas dan pasti sebagaimana halnya seorang muslim yang layak menerima azab karena meninggalkan suatu kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah. Apalagi kewajiban tersebut merupakan tumpuan pelaksanaan kewajiban-kewajiban lain, tumpuan penerapan syari'at Islam secara menyeluruh, bahkan menjadi tumpuan eksistensi tegaknya Islam agar panji-panji Allah dapat berkibar di negeri-negeri Islam dan di seluruh penjuru dunia.

Adapun hadits-hadits yang menyebut tentang uzlah atau mengasingkan diri dari masyarakat, dan bahwa seorang muslim cukup membatasi diri hanya berpegang teguh pada perkara-perkara agama yang khusus mengenai diri sendiri; tidak dapat dijadikan dalil dibolehkannya berdiam diri dari kewajiban mengangkat seorang Khalifah dan tidak pula menggugurkan dosanya.

Bagi orang yang meneliti hadits-hadits tersebut dengan seksama akan mengerti bahwa sebenarnya hadits-hadits itu berkaitan erat dengan persoalan berpegang teguh pada agama, bukan berkaitan dengan rukhshah (keringanan) bolehnya berdiam diri dari kewajiban mengangkat Khalifah bagi kaum muslimin. Sebagai contoh Imam Bukhari meriwayatkan dari Bisr bin Ubaidillah Al Hadlrami bahwa dia mendengar Abu Idris Al Khaulani mendengar Hudzaifah bin Yaman berkata:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَني، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ: نَعَمْ، قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ، قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدِيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ، قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ: نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا، قَالَ: هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا، قُلْتُ: فَمَا تَأمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذلِكَ ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ، قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ، قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

"Dahulu, biasanya orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan itu menimpaku. Maka aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, kami dahulu berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?' Beliau menjawab, 'Ya'. Aku bertanya, 'Apakah setelah keburukan itu nanti ada kebaikan?' Beliau menjawab, 'Ya, tetapi di dalamnya ada asap.' Aku bertanya, 'Apakah asap itu?' Beliau menjawab, 'Suatu kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka ingkarilah.' Aku bertanya, 'Apakah setelah kebaikan tersebut nanti ada keburukan?' Beliau menjawab, 'Ya, yaitu munculnya da'i-da'i yang mengajak ke pintu Jahannam. Siapa saja yang menyambut ajakan mereka, niscaya akan mereka lemparkan ke dalam neraka itu.' Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, jelaskanlah ciri-ciri mereka kepada kami.' Beliau menjawab, 'Mereka itu mempunyai kulit seperti kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.' Aku bertanya, 'Apakah yang engkau perintahkan kepadaku, jika hal itu menimpaku?’ Beliau bersabda, 'Ikatkanlah dirimu kepada jama'ah kaum muslimin dan imam mereka.' Aku bertanya, 'Kalau tidak ada jama'ah dan tidak ada imam?' Beliau menjawab, 'Tinggalkanlah semua firqah yang ada, walau sampai engkau menggigit akar pohon hingga engkau mati dalam keadaan demikian.'"

Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa Rasulullah memerintahkan seorang muslim agar menetapi jama'ah kaum muslimin dan Imam (Khalifah) mereka, serta meninggalkan da'i-da'i yang mengajak ke pintu neraka jahannam. Kemudian seseorang bertanya apa yang harus dikerjakan dalam keadaan tidak ada jama'ah dan Imam sehubungan dengan menculnya da'i-da'i yang mengajak ke pintu jahannam. Pada situasi dan kondisi demikian, Rasulullah memerintahkan orang itu agar menjauhi semua firqah yang ada, dan bukan menjauhi kaum muslimin serta tidak pula memerintahkan berdiam diri dari kewajiban mengangkat seorang imam. Perintah beliau tegas, "Maka jauhilah semua firqah yang ada" . Dan beliau sangat menekankan perintah ini, sampai-sampai beliau menegaskan walaupun dalam rangka menjauhi firqah-firqah tersebut, seseorang terpaksa menggigit akar pohon sampai mati.

Makna hadits ini ialah “pegang teguhlah agamamu dan jauhilah da'i-da'i yang menyesatkan dan mengajak ke pintu jahannam”. Hadits ini tidak mengandung sedikit pun alasan untuk meninggalkan kewajiban mengangkat seorang Khalifah dan tidak pula mengandung sedikit pun rukhshah dalam pelaksanaannya. Perintah dalam hadits di atas terbatas pada perintah memegang teguh agama Islam dan menjauhi para da'i yang mengajak ke pintu Jahannam. Jadi setiap muslim akan tetap menanggung dosa apabila tidak berupaya mengangkat Khalifah. Sebab dalam hal ini dia diperintahkan untuk menjauhi semua firqah yang sesat demi menyelamatkan agamanya dari para da'i yang menyesatkan, walaupun harus menggigit akar pohon; dan bukan diperintahkan agar menjauhi jama'ah kaum muslimin dan berdiam diri dari kewajiban menegakkan hukum-hukum agama dan kewajiban mengangkat seorang Imam bagi kaum muslimin.

Contoh yang lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abi Sa'id Al Khudri RA yang berkata: Rasulullah SAW bersabda:

يُوْشِك أَنْ يَكُوْنَ خَيْرُ مَال الْمُسْلِمِ غَنَم يُتْبَعُ بِهَا شَعْفَ الْجَبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِيْنِهِ مِنَ الْفِتَنِ

"Hampir-hampir terjadi sebaik-baik harta seorang muslim ialah kambing yang selalu dia ikuti di puncak gunung dan tempat-tempat jatuhnya hujan, demi menjaga agamanya dari banyak fitnah".

Hadits ini tidak berarti boleh mengasingkan diri dari jama'ah kaum muslimin dan berdiam diri dari kewajiban menegakkan hukum-hukum agama dan mengangkat Khalifah bagi kaum muslimin. Seluruh kandungan hadits ini adalah penjelasan tentang sebaik-baik harta seorang muslim di masa fitnah dan sebaik-baik tindakan yang dilakukan dalam melarikan diri dari fitnah. Jadi hadits ini bukan sebagai anjuran menjauhi dan ber-uzlah dari kaum muslimin.

Penutup

Berdasarkan semua penjelasan di atas, maka tidak ada lagi alasan bagi seorang muslim di permukaan bumi ini untuk berdiam diri dari kewajiban yang telah dibebankan Allah kepada mereka untuk menegakkan agama. Kewajiban ini tidak lain adalah mengangkat seorang Khalifah bagi kaum muslimin tatkala di seluruh dunia tidak ada Khilafah; ketika tidak ada orang yang menegakkan hukum-hukum Allah untuk memelihara segala sesuatu yang harus dijaga kehormatannya; ketika tidak ada orang yang menegakkan hukum-hukum agama dan menyatukan kaum muslimin di bawah bendera La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah. Tidak ada dalam Islam sedikit pun keringanan untuk berdiam diri dari kewajiban ini hingga Khilafah benar-benar berhasil ditegakkan. [ ]

- - - - -